Sedekah Tanpa Diantar

Sedekah Tanpa Diantar

Nabi saw. bersabda:

عن أنس رضي الله عنه قال،قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:"مَامِن مُسلم يَغرِسُ غَرْسًا أو يَزرَعُ زَرْعًا فيأكُلُ مِنه طَيرٌ أو إنسَانٌ أوبهيْمَةٌ إلا كان لهُ بهِ صَدقَةٌ"

“Dari Anas r.a. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman lantas dimakan oleh burung, manusia atau hewan ternak, melainkan itu merupakan sedekah baginya.”[1]

Perawi tertinggi

Beliau adalah Anas bin Malik, pelayan Rasulullah saw..

Makna hadis

Rasulullah saw. menganjurkan untuk menanam tanaman dan menjelaskan pahala orang yang menanam: “Barangsiapa menanam tanaman, maka tidaklah manusia, burung atau makhluk Allah lainnya yang memakannya melainkan ia mendapatkan pahala.” Baik ia bermaksud untuk memberi makan makhluk-makhluk ini maupun tidak, rela tanamannya itu dimakan maupun tidak rela. Ia akan tetap diberi pahala dalam kondisi apapun. Ada hadis lain yang senada dengan ini: “Jika kiamat datang dan di tangan salah seorang diantara kalian  ada bibit kurma maka jika mampu hendaklah ia menanamnya dania mendapatkan pahala.”

Fikih hadis

Di dalam sebuah riwayat, redaksi hadis memakai kalimat (ما من مسلم), di riwayat lainnya (ما من رجل) dan di riwayat lain (ما من عبد). Maksud dari kesemuanya sama, baik merdeka maupun hamba sahaya, taat maupun bermaksiat, dengan membawa makna mutlak pada kata (رجل) dan (عبد) ke makna muqayyad, yaitu (مسلم). Hadis ini juga mencakup muslimah, karena kata muslim di dalam hadis ini yang dimaksud adalah jenis, sehingga mencakup semua orang yang memiliki kriteria sifat Islam ini, baik laki-laki maupun perempuan. Dengan demikian, maka tidak termasuk orang kafir, karena ia tidak akan mendapatkan pahala kelak di surga. Karena ibadah hanya sah jika dilakukan oleh orang Islam. Jika seorang kafir bersedekah atau melakukan perbuatan baik maka ia tidak akan mendapatkan pahala kelak di akhirat. Namun ia akan mendapatkan balasan baik di dunia, dengan bertambah harta atau keturunan. Demikianlah firman Allah swt.: “Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menghapus perbuatan-perbuatan mereka.” (QS. Muhammad: 1)

Dan di dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Aisyah: “Aku berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ibnu Jud’an ketika masa jahiliah menyambung silaturahim dan memberi makanan, apakah ini bermanfaat baginya?” Beliau menjawab: “Tidak, itu tidak bermanfaat baginya. Dia tidak pernah berdoa: “Wahai Tuhanku ampunilah kesalahanku pada hari kiamat.” Artinya, ia tidak membenarkan akan hari kebangkitan. Dan siapapun yang tidak membenarkannya maka ia kafir dan amalnya tidak bermanfaat.

Di dalam Shahih Muslim juga disebutkan, dari Jabir bin Abdullah, Nabi SAW. masuk ke rumah Ummu Ma’bad untuk menanyakan kurmanya, beliau bertanya: “Wahai Ummu Ma’bad, siapa yang menanam pohon kurma ini? Muslim atau kafir?” Ia menjawab: “Muslim.” Beliau bersabda: “Tidaklah seorang muslim menanam pohon lantas buahnya dimakan oleh manusia, hewan ternak dan burung melainkan menjadi sedekah baginya.”

Sebagian ulama berkata: “Adanya qayid muslim di dalam hadis tersebut, karena yang umum pada sabda Nabi SAW. adalah untuk umat Islam. Orang kafir bisa saja diringankan siksanya atas dosa selain kufur karena berbuat kebaikan, seperti yang terjadi kepada Abu Thalib karena kebaikannya kepada Nabi Muhammad SAW.. Adapun siksa akan kekufurannya maka tidak diringankan sama sekali. Sebagaimana juga ia tidak akan diberi nikmat dan kekal di neraka. Syaikh al-Syarqawi merajihkan pendapat kedua ini dan memahami sabda Rasulullah SAW. di dalam hadis riwayat Aisyah terkait Ibnu Jud’an, di mana beliau mengatakan “tidak bermanfaat”, ia memahami sabda ini bahwa tidak bermanfaat dalam masuk surga, sehingga hal itu tidak menafikan kemanfaatannya dalam meringankan dosa. Ia berkata: “Membawakan teks mutlak kepada teks muqayyad itu menyelisihi zahir.”

Teks mutlak dalam sabda beliau “….menanam sebuah pohon..” mencakup tanamannya untuk sedekah dan untuk keluarganya, atau untuk memenuhi nafkah. Karena manusia mendapat pahala atas hartanya yang dicuri, meski tidak berniat untuk mendapatkan pahala. Pahala ini tidak hanya khusus orang yang langsung melakukan penanaman, akan tetapi juga mencakup orang yang mengupah orang lain untuk mengerjakan hal itu, dan pekerjanya pun mendapat pahala tersebut. Itu seperti para tukang bangunan yang membangun masjid, ia mendapatkan pahala atas pekerjaannya, sebagaimana juga donatur bangunan tersebut mendapatkan pahala juga. Semua itu dengan syarat niat yang baik dan hanya menginginakn rida Allah. Demikian juga kalimat mutlak dalam “….lantas dimakan oleh seekor burung…dst” juga mencakup seandainya makhluk-makhluk ini memakannya karena pemilik tidak mampu memanen hasil tanaman atau pertaniannya. Atau sebagian biji hasil panen tercecer di tanah. Maka, meskipun demikian ia tetap mendapatkan pahala atas semua itu. Hadis ini memberikan pengertian kepada kita betapa banyak pahala yang didapatkan oleh para penanam. Pahala ini akan terus mengalir selagi tanaman ini ada dan bermanfaat. Bahkan seandainya ia meninggal dunia. dengan ini riwayat Muslim dalam Shahihnya mengatakan: “….melainkan baginya sedekah sampai hari kiamat.” Ini tidak hanya terbatas pada diri si penanam, bahkan lebih umum. Ada sebuah hadis mengatakan: “Barangsiapa membangun ruah tanpa menzalimi dan menyakiti maka ia mendapatkan pahala selama bermanfaat bagi makhluk Allah swt..” Demikian juga orang yang bersedekah jariyah atau meninggalkan ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya, atau mengajarkan Alquran, menggali sumur, mengalirkan sungai, membangun masjid, sekolah, rumah sakit dan semisalnya.

Menghimpun antara hadis ini dengan hadis riwayat al-Tirmizi dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah saw. bersabda: “Jangan kamu membuat dhai’ah[1] sehingga kamu mencintai dunia.” Ada yang berpendapat bahwa larangan itu jika hal itu memalingkan pemiliknya untuk cinta dunia.

Menghimpun hadis ini yang berisi keutamaan pertanian dibandingkan pekerjaan-pekerjaan lainnya dengan banyak hadis yang menjelaskan akan keutamaan bekerja dengan tangan, ada sebagian ulama mengatakan: bahwa pertanian jika dilakukan dengan tangan sendiri maka itu merupakan pekerjaan yang paling utama. Ada yang berpendapat bahwa bekerja dengan tangan sendiri lebih baik dari aspek kehalalan, sedangkan pertanian lebih utama dari aspek kemanfaatan umum karena dapat dirasakan oleh orang lain. Jika demikian maka kondisi setiap orang berbeda sesuai kebutuhan masing-masing. Apalagi orang-orang membutuhkan lebih di sektor makanan pokok maka bercocok tanam lebih utama untuk memenuhi kebutuhan manusia. Jika mereka lebih membutuhkan barang-barang dagangan maka berdagang lebih utama. Jika mereka lebih membutuhkan produk pabrik maka membuat pabrik jauh lebih utama.

Pelajaran dari hadis:

  1. Keutamaan bercocok tanam.
  2. Pahala itu didapatkan dari perbuatan baik kelak di akhirat, dan ini khusus muslim tidak kafir.
  3. Pahala sampai ke si penanam meskipun tidak berniat mendapatkan pahala.
  4. Menanam dan membuat pabrik hukumnya mubah dan tidak mencederai kezuhudan.
  5. Anjuran untuk memakmurkan bumi bagi dirinya dan orang-orang yang datang setelahnya.
  6. Kebolehan menisbatkan tanaman kepada anak Adam.
  7. Boleh membuat dhai’ah dan melakukannya.

 

[1] Dhai’ah adalah sesuatu yang menjadi pegangan hidup, seperti perusahaan, perdagangan, pertanian dan semisalnya.

 

 

[1] Diriwayatkan oleh Bukhari di dalam bab: al-adab, dan Muslim di dalam bab: al-buyu’, serta al-Tirmizi di dalam bab: al-ahkam.

Rate this item
(0 votes)
Login to post comments

المشرف العام على الموقع

موقع بوابة المدينه الدعوى تحت اشراف

الاستاذ الدكتور / محمد محمود هاشم

                     نائب رئيس جامعه الازهر للوجه البحرى وعضو مجمع البحوث الاسلاميه

JSN_TPLFW_GOTO_TOP